Rabu, 19 Oktober 2011

Goa Cikenceng, pemandagan di dalam perut bumi



16 Oktober 2011
Perjalanan kali ini merupakan inisiatif dari satu orang anggota lawalata untuk menelusuri goa. Penelusuran ini diawali dengan memilih kawasan goa mana yang akan kita turuni nantinya. Pertama – tama kita mempunyai ide akan mencoba mengekplor kembali goa – goa yang berada di ciampea karena ada dua anak SMA yang mau ikut untuk penelusuran goa. Pertimbangannya karena anaknya masih SMA kami memutuskan memilih ciampea, selain tempatnya dekat akses menuju sampai ciampea juga mudah. Pada saat mempersiapkan barang, sispala dari sma kornita (wapala) membatalkan untuk ikut caving ke ciampea. Setelah mendengar kabar batal, kami bertiga memutuskan untuk pergi ke goa yang berada di citeurep (desa tajur).
Persiapan alat – alat caving pun dimasukkan kedalam tas, seperti harness, carabiner, webbing dll. Setelah peralatan safety procedure siap, kami berangkat dari sekred lawalata jam 00.00 menuju citeurep. Perjalanan menuju base camp linggih alam, sempat tertunda dikarenakan kita nyasar menuju arah cilengsi dan sampai pos pukul 03.00.
17 Oktober 2011
Esok harinya, 2 anak wapala menyusul kami dan sampai basecamp jam 09.30. Setelah semua tim berkumpul, kami mendiskusikan dengan mapala gunadarma goa mana yang akan kita ekplore. Mapala gunadarma yang sudah lama mengekplore goa – goa di tajur menyarankan ke goa cikenceng karena goa ini merupakan goa horizontal dan didalamnya terdapat 2 air terjun.
Tim berangkat dari base camp jam 12 siang, dan suasana di sekitar goa cukup panas. Lokasi ini merupakan kawasan karst dan di kawasan ini pula terdapat penambangan kapur oleh inducement. Perjalanan trekking menuju goa cukup lah panas, baju yang kita pakai basah oleh keringat selama perjalanan. Menuju mulut goa, kita disambul oleh ular hijau yang bergelantungan di ranting pohon. Sebelum memasuki goa, kita mengusir ular dengan tongkat supaya saat masuk goa tidak terganggu oleh ular.
Setelah ular pergi, satu per satu dari kita memasuki mulut goa. Ekplore dimulai pukul 1 siang dan ditargetkan untuk kembali pukul 4 sore. Mulut goa cikenceng yang sempit, mengharuskan kita untuk melenturkan tubuh mengikuti morgologi dari bentuk goa tersebut. Perasaan pertama masuk goa cikenceng adalah udara yang sejuk. Udara yang sejuk ini dipengaruhi oleh sitem per goannya yang terdapat aliran arus, sehingga terdapat aliran udara yang sejuk. Ekplore dimulai pukul 1 siang dan ditargetkan untuk kembali pukul 4 sore. Memasuki lorong – lorong goa kita terkadang harus merangkak, berjalan kayak kepiting, dan kadang harus memakai webbing.
30 menit perjalanan, kami menemukan air terjun pertama dengan ketinggian sekitar 4 meter. Untuk menaikinya kita harus memanjat terlebih dahulu. Setelah satu orang sampai di atas, langsung pasang pengaman dengan webbing untuk mempermudah menaikinya. Jalur yang licin, kadang membuat tim harus saling bantu membantu terkadang harus menariknya dan terkadang harus menaiki punggung dari salah satu tim. Air terjun didalem goa berbeda dengan yang biasa kita liat biasanya. Airnya tidak terlalu deras dibandingkan dengan air terjun di gunung. Di goa air terjunnya cukup unik, karena kita bisa melihat batu batuan stalakmit disekitarnya selain itu keindahannya jadi terasa berbeda karena didadalam perut buni terdapat juga air terjun. Jarak air terjun pertama dan kedua tidak berjauhan sekitar 15 menit dan ketingginannya tidak jauh berbeda.
Pukul 15.00, kita beristirahat dan memakan santap siang. Menu kali ini adalah nasi tongkol masakan rumah. Cita rasa makan di goa berbeda ketika makan di warteg ataupun restoran mewah, di goa kita dapat merasakan nikmtanya makanan dengan suasana gelap gulita.
Istirahat selesai, kami pun kembali lagi ke mulut goa. Sesampai di mulut goa, kita menemukan kembali ular yang tadi saat masuk goa. Perasaan saya saat itu tidak enak, karena ular yang sama menunggu di mulut goa, dan tanpa tujuan yang jelas. Setelah ular di usir kamo keluar goa sekitar pukul 16.00 sore.
“Hanya ada keindahan di kegelapan. Tak lain GOA”

Selasa, 19 April 2011

Solidaritas Mahasiswa Pecinta Alam


Mapala atau yang dikenal dengan sebutan mapala merupakan suatu organisasi yang bergerak di kepencinta alaman. Setiap anggota mapala merupakan suatu keluarga, walaupun belum kenal sama sekalai. Mapala sangat memegang priinsip yaitu rasa kekeluargaan, kebersamaan dan juga perbedann.
Pengaalaman saya bermain ke mapala lain cukuplah menyenangkan. Pada saat melakukan pendakian ke gunung ciremai, kami mengunjungi mapala Gunati. Disana kami disambut layaknya keluarga yang lama tidak kembali. Pada saat sesampai di sekred gunati, kami langsung dikasih makan dan minuman hangat. 
Obrolan mulai terasa dekat, ketika makan satu piring dan minum pun satu gelas bersama – sama. Pelajaran yang saya peroleh dari hal kecil ini adalah menolong jangan setengah – setengah, walaupun orang itu baru kita kenal.
Saat pendakian akan dimulai, saya menanyakan jalur menuju puncak ciremai itu bagaimana, eh malahan anak gumati bersedia menemani kami sampai puncak ciremai. Setau saya juga, anak Gumati pada saat itu sedang menjalani ujian Uas. Disini saya merasa bangga dengan persaudaraan di mapala. Tolonglah temanmu, sebelum temanmu memintanya.